Fast Blinking Hello Kitty Cahaya Sains: LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA UJI KERENYAHAN KERUPUK

Senin, 19 Mei 2014

LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA UJI KERENYAHAN KERUPUK


LAPORAN PRAKTIKUM FLUIDA
UJI KERENYAHAN KERUPUK

 


Oleh :
1.     Siti Syamsiah                    (12030654055)
2.     Nuriska Ela Safitri             (12030654057)
3.     Nur Indah Kurniawati       (12030654208)
4.     Dina Liswati                        (12030654232)
5.     Nur Laili Suci Angraeni     (12030654234)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Mei, 2014


 
UJI KERENYAHAN KERUPUK

ABSTRAK

Kami telah melakukan percobaan uji kerenyahan kerupuk pada hari Senin tanggal 12 Mei 2014 di Laboratorium Pendidikan Sains FMIPA Unesa. Tujuan dari percobaan ini adalah mengidentifikasi pengaruh jenis kerupuk terhadap kerenyahan kerupuk. Metode dari percobaan ini adalah pertama dengan mengukur massa awal kerupuk, kemudian kerupuk diletakkan di atas penyangga yang terletak di atas neraca digital lalu di tekan dengan alat tekan sampai patah dan dihitung massa kerupuk yang telah patah. Variabel manipulasi pada percobaan ini adalah jenis dari kerupuk yang diuji, sedangkan variabel yang dikontrol adalah luas penekan alat penekan, neraca digital dan massa penyangga, dan variabel responnya adalah kerenyahan dari kerupuk. Hasil dari percobaan ini adalah terbukti bahwa perbedaan jenis kerupuk mempengaruhi kerenyahan kerupuk.


Kata kunci : kerenyahan, kerupuk

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kerupuk merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari Indonesia, terbuat dari tepung tapioka (pati), dicampur dengan bahan tambahan pangan dan dilakukan penggorengan dengan minyak sebelum disajikan. Sajian kerupuk yang diinginkan adalah yang renyah, artinya mudah patah saat digigit. Pati berperan dalam proses gelatinisasi dan berpengaruh terhadap volume pengembangan yang merupakan salah satu mutu kerupuk yaitu semakin besar volume pengembangan maka mutu kerupuk tersebut makin baik. Dalam praktikum yang akan dilakukan kali ini, kami menggunakan jenis kerupuk sebagai pengaruh kerenyahan atau elastisitas kerupuk. Kerupuk mempunyai elastisitas yang mempunyai batas elastisitas itu sendiri. Artinya, kerupuk bisa patah ketika kerupuk tersebut diberi gaya tertentu sampai mencapai titik patah.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas kami merumuskan sebuah masalah yaitu bagaimana pengaruh lama proses idle antara pengolahan dan penyajian terhadap elastisitas spageti?

C.    Tujuan Percobaan
Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan percobaan atau eksperimen ini adalah mengidentifikasi pengaruh jenis kerupuk terhadap kerenyahan kerupuk.

D.    Hipotesis
Jika jenis kerupuk berbeda, maka berpengaruh terhadap kerenyahan kerupuk. 



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Elastisitas
Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk dapat mengembalikan keadaan awalnya, segera setelah gaya yang diberikan pada benda dihilangkan. Benda elastis adalah benda yang dapat kembali ke bentuk awal, setelah gaya yang diberikan pada benda dihilangkan.
Contoh benda elastis: karet, pegas, baja, kayu. Untuk pegas dan karet, yang dimaksudkan dengan perubahan bentuk adalah pertambahan panjang. Gaya yang diberikan juga memiliki batas-batas tertentu yang disebut batas prposional atau daerah elastik yang kurvanya merupakan garis lurus, grafik dapat dilihat di samping. Setelah titik ini, grafik menyimpang dari garis lurus, dan tidak ada satu hubungan sederhana antara F dan ΔL. Meskipun demikian, sampai suatu titik yang lebih jauh sepanjang kurva yang disebut batas elastik, benda akan kembali ke panjangnya semula jika gaya dilepaskan. Daerah dari titik awal ke batas elastik disebut daerah elastic. Jika benda direnggangkan melewati batas elastic, ia memasuki dareah plastik benda tidak akan kembali ke panjang awalnya ketika gaya eksternal dilepaskan, tetapi tetap berubah bentuk secara permanen (seperti melengkungnya klip kertas). Perpanjangan maksimum dicapai pada titik patah. Gaya maksimum yang dapat diberikan tanpa benda tersebut patah disebut kekuatan ultimat dari materi tersbut. Sebuah karet bisa putus jika gaya tarik yang diberikan sangat besar, melawati batas elastisitasnya. Demikian juga sebuah pegas tidak akan kembali ke bentuk semula jika diregangkan dengan gaya yang sangat besar. Jadi benda-benda elastis tersebut memiliki batas elastisitas.
Besarnya pertambahan panjang sebuah benda tidak hanya bergantung pada gaya yang diberikan padanya, tetapi juga pada bentuk materi pembentuk dan dimensinya. Yaitu, konstanta k dapat dinyatakan dalam faktor-faktor tersebut. Jika kita membandingkan batang yang dibuat dari materi yang sama tetapi dengan panjang dan penampang lintang yang berbeda, ternyata untuk gaya yang sama, besarnya regangan sebanding dengan panjang awal dan berbanding terbalik dengan luas penampang lintang. Yaitu makin panjang benda, makin besar pertambahan panjangnya untuk suatu gaya tertentu dan makin tebal benda tersebut, makin kecil pertambahan panjangnya.
Regangan (strain) adalah perbandingan antara pertambahan panjang L terhadap panjang mula-mula (Lo). Regangan dinotasikan dengan ‘e’ dan tidak mempunyai satuan. Dirumuskan sebagai berikut : e = ΔL/Lo

B.     Kerupuk
Kerupuk merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari Indonesia, terbuat dari tepung tapioka atau pati sagu (Yu, 1991), dicampur dengan bahan tambahan pangan dan dilakukan penggorengan dengan minyak sebelum disajikan. Bahan dasar tersebut pada umunya memiliki kualitas gizi yang kurang baik terutama pada kandungan protein, sehingga diperlukan penambahan bahan lain yang tinggi protein untuk meningkatkan nilai gizinya (Kusharto, 1982). Penambahan bahan tersebut juga dapat meningkatkan citarasa produk kerupuk (Rahardjo dan Haryadi, 1997). Beberapa bahan yang biasa ditambahkan dalam pembuatan kerupuk antara lain lumatan ikan laut, ikan nila, udang, telur, dan lainnya (Budiman, 1985; Yu, 1991; Julianty et al., 1994; Yu et al., 1994; Rahardjo dan Haryadi, 1997).
Penambahan bahan non pati yang suka mengikat air dapat menyulitkan proses pemasakkan pati (Chinachoti et al., 1991) karena denaturasi protein akan menurunkan kemampuan mengikat air (Kropf dan Bowers, 1992). Makin banyak bahan non protein yang ditambahkan, maka akan semakin cepat pemasakkan pati (Rahardjo dan Haryadi, 1997). Tingkat kematangan adonan pati mempengaruhi pengembangan pada hasil akhir dan akibatnya akan mempengaruhi kerenyahan (Haryadi, 1994). Semakin banyak penambahan bahan non pati, maka akan semakin nikmat secara organoleptik. Namun di sisi lain, penambahan bahan non pati akan menurunkan pengembangan kerupuk pada saat pematangan yang mempengaruhi pada tingkat kerenyahannya (Haryadi et al., 1989). Padahal, kerenyahan merupakan penentu utama tingkat penerimaan kerupuk (Yu et al., 1981). Pembuatan kerupuk melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan adonan, pengukusan gelondong adonan, pendinginan, pengeringan, dan proses pematangan (Rahardjo dan Haryadi, 1997; Topan, 2008; Miyatani, 2008). Proses pematangan yang biasa dilakukan dalam pembuatan kerupuk adalah dengan proses penggorengan menggunakan teknik deep frying (Topan, 2008; Miyatani, 2008).
Namun saat ini, penggunaan minyak goreng sebagai media pematangan bahan pangan mulai dikaji kembali karena menyimpan resiko yang cukup besar pada kesehatan. Konsumsi lemak yang tidak berimbang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit berbagai degeneratif (Winarno, 1992; Elisabeth, 1997; Tambunan et al., 1997). Oleh karena itu, pematangan kerupuk dapat dilakukan menggunakan teknik microwave yang relatif lebih sehat karena tidak menggunakan lemak dalam proses pematangannya.
1.      Sifat kerupuk
Kerupuk tapioka mempunyai kandungan protein yang rendah. Hal ini dikarenakan kadar protein bahan baku yang digunakan (tepung tapioka) rendah. Penambahan ikan, tepung udang, dan sumber protein lainnya pada adonan kerupuk diharapkan akan meningkatkan kandungan protein kerupuk yang dihasilkan. Pembuatan adonan merupakan tahap penting dalam pembuatan kerupuk mentah. Adonan dibuat dengan mencampurkan bahanbahan utama dan bahan-bahan tambahan yang diaduk hingga diperoleh adonan liat dan homogen (Wijandi et al., 1975). Kerupuk memiliki tekstur berongga dan renyah. Hal ini merupakan salah satu mutu dari kerupuk. Sifat renyah pada produk kerupuk dan crackers berpengaruh terhadap kualitas produk pangan dan berperan dalam metode penyimpanan suatu produk pangan (Wairakartakususmah et al., 1989). Sifat kerupuk mudah melempem, hal ini berkaitan dengan kelembapan udara lingkungan dan tingkat penyerapan air pada produk kerupuk. Kelembapan udara di Indonesia yang relatif tinggi (80%-90%) memacu teknologi pembentukan bahan pengemas yang tahan kondisi lingkungan sesuai dengan produk bahan yang dikemas (Setyawan, 1999). Bahan pengemas tahan uap air dan udara yang sering digunakan untuk produk kerupuk adalah plastik, kaleng, dan gelas (Syarief dan Halid, 1993).


2.      Bahan baku kerupuk
a.   Tepung tapioka
Tepung tapioka merupakan hasil ekstraksi pati ubi kayu (manihot utilisima) yang telah mengalami proses pencucian dan dilanjutkan dengan pengeringan dan penggilingan. Tepung tapioka memiliki granula yang unik yang merupakan sifat khas yang membedakan tepung tapioka dengan tepung-tepung yang lain (Winarno, 1992). Tepung tapioka akan berwarna jernih apabila membentuk pasta, mempertinggi mutu penampilan dari produk akhir, dan memiliki suhu gelatinisasi yang rendah. Titik gelatinisasi tepung tapioka terjadi pada suhu 60.3-69.5 0C dengan waktu 2 menit 10 detik hingga 5 menit 46 detik (Maarif, 1984).
b.   Gula
Gula adalah suatu istilah umum yang sering digunakan pada setiap karbohidrat yang digunakan sebagai pemanis, tetapi dalam industri pangan biasanya dinyatakan sebagai sukrosa, gula yang diperoleh dari bit atau tebu (Buckle et al., 1987). Penggunaan gula pada produk pangan berprotein dapat menyebabkan reaksi browning atau pencoklatan karena adanya reaksi antara gugus asam amino bebas seperti amin, asam amino, peptida, dan protein dengan komponen karbonil yaitu partikel gula preduksi pada gula (Fayle dan Gerard, 2002: Murthy, 2003). Penggunaan gula pada bahan pangan bermanfaat terhadap peningkatan kualitas sensori terutama flavor (Reineccius, 1994). Penggunaan gula juga berpengaruh terhadap penurunan aktivitas air bahan pangan (Buckle et al., 1987). Penambahan gula berpengaruh terhadap kekentalan gel. Gula dapat menurunkan kekentalan gel karena gula dapat mengikat air, sehingga pembengkakan butir-butir pati terjadi lebih lambat sehingga menyebabkan suhu gelatinisasi menjadi lebih tinggi. Keuntungan penggunaan gula adalah gel yang terbentuk lebih tahan terhadap kerusakan mekanik (Winarno, 1992).
c.    Garam
Garam (NaCl) sebagai bahan tambahan pangan berperan dalam menambah cita rasa produk akhir. Garam memperngaruhi Aw dari bahan karena menyerap air sehingga sehingga Aw akan turun (Buckle et al., 1987). Penggunaan gula akan mereduksi penggunaan garam untuk setiap penambahan gula (Reineccius, 1994).

d.   Air
Air (H2O) adalah komponen penting dalam produk pangan karena dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, tingkat kerenyahan produk akhir serta cita rasa makanan. Reaksi pembentukan gel memerlukan air sebagai penentu tingkat keberhasilan produk yang diinginkan (Winarno, 1992). Jumlah air yang ditambahkan dalam adonan kerupuk dapat mempengaruhi tingkat adonan kerupuk, penyerapan minyak, dan kerenyahan produk akhir (Wiriano, 1984). Air dan penggunaan suhu tinggi dapat berpengaruh pada kecepatan reaksi dan kecepatan pelarutan bahan (Graham, 2000).
e.    Bawang putih
Bawang putih (Allium sativum L.) mempunyai bau yang kuat, rasa yang tajam, dan bereaksi secara enzimatis membentuk allicin (C3H5-SS-C3-H5), yang memecah alil disulfida. Alil disulfida merupakan karakteristik bau khas bawang putih. Kandungan lain pada bawang putih yang menentukan aroma adalah 20% dialil trisulfida, 6% alil propil disulfida, sejumlah kecil dietil sulfida, dialil polisulfida, alinin dan alisin (Farrel, 1990).
f.    Bahan pengembang (baking powder)
Secara umum komposisi baking powder terdiri atas asam (acidic agents) dan natrium bikarbonat (NaHCO3). Mekanisme kerja dari baking powder adalah apabila kontak dengan air dan panas akan bereaksi membentuk CO2 yang dapat mengontrol pengembangan volume adonan (Graham, 2000). Volume gas bersama udara dan uap air yang terperangkap dalam adonan akan mengembang sehingga diperoleh suatu struktur berpori (Winarno, 1992).

3.      Pengolahan kerupuk
a.      Pembuatan adonan
Tahap pembuatan adonan merupakan tahap awal yang sangat penting. Fakor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan adonan adalah kehomogenan bahan. Pengadonan berpengaruh terhadap daya kembang produk (Lavlinesia, 1995).
b.      Pengukusan
Proses pengukusan dilakukan setelah adonan mentah dicetak. Pengukusan berguna untuk menggelatinisasikan adonan sehingga dapat membentuk tekstur yang kompak. Pengukusan yang terlalu lama dapat menyebabkan air yang terperangkap oleh gel pati terlalu banyak sehingga proses pengeringan dan penggorengan menjadi tidak sempurna. Adonan yang setengah matang menyebabkan pati tidak tergelatinisasi dengan sempurna dan akan menghambat pengembangan kerupuk (Elyawati, 1997). Menurut Djumali et al. (1982), adonan yang telah masak ditandai dengan seluruh bagian berwarna bening serta teksturnya kenyal. Lama pengukusan tergantung dari bentuk adonan yang dicetak. Elyawati (1997) menjelaskan pengukusan adonan yang baik dalam bentuk silinder berukuran diameter ±5 cm adalah 25 menit pada suhu 100-110ºC.
c.       Pendinginan dan pengirisan
Pendinginan adonan dilakukan setelah proses pengukusan. Pendinginan adonan akan menghasilkan tekstur kerupuk yang padat sehingga pengirisan mudah dilakukan. Proses pendinginan dapat dipercepat dengan menggunakan refrigerator (Wiriano, 1984). Pengirisan adonan dapat dilakukan menggunakan pisau atau slicer dengan ketebalan 2-3 mm. Pengirisan dengan ukuran seragam berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas kerupuk setelah penggorengan (Wiriano, 1984).
d.      Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan menguapkan sebagian besar uap air melalui penggunaan energi panas sehingga terjadi penurunan kadar air (Wiratakusumah et al., 1989). Pengurangan kadar air menyebabkan kandungan senyawa bahan pangan seperti protein, karbohidrat, lemak, dan mineral menjadi lebih tinggi, namun vitamin dan zat warna pada umumnya kan rusak dan menurun (Winarno, 1993). Prinsip pengeringan dengan oven listrik adalah dengan sistem pindah panas secara konveksi yaitu adanya perpindahan massa zat berupa udara panas yang ditiupkan melalu pemanas (heater) sebagai sumber panas (Fellow, 1990). Keuntungan dari sistem pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet, volume bahan menjadi lebih ringkas sehingga memudahkan distribusi produk, menghemat ruang pngangkutan dan pengemasan, serta bahan menjadi lebih ringan sehingga biaya pengangkutan menjadi lebih murah. Kerugiannya adalah sifat bahan asal menjadi berubah seperti bentuk, sifat fisik dan kimis, serta penurunan mutu (Wiratakusumah et al., 1989).

e.       Penggorengan
Penggorengan adalah proses penyiapan produk pangan secara cepat menggunakan lemak atau minyak pangan (Shahidi et al., 1997). Makanan yang digoreng tidak saja menjadi matang tetapi cukup tinggi suhunya sehingga menjadi coklat dan menghasilkan komponen flavor volatil sebagai hasil reaksinya (Fayle dan Gerard, 2002).



BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

A.    Rancangan Percobaan
Gambar 2. Rancangan Percobaan Uji Kerenyahan Kerupuk

B.     Alat dan Bahan
1.    Alat
a)      Neraca digital        1 buah
b)      Balok kayu            1 buah
c)      Mistar                    1 buah
2.    Bahan
a)      Kerupuk ikan
b)      Kerupuk cabai
c)      Kerupuk serai
d)     Kerupuk ikan + udang
e)      Kerupuk udang

C.    Variabel Pecobaan
Variable manipulasi          : jenis kerupuk
Variable terikat                : kerenyahan (tegangan puncak)
Variable kontrol               : luas penampang alat tekan dan neraca, massa penyangga


D.    Prosedur Percobaan
1.    Alur Perocbaan



 

2.    Langkah Percobaan
Pertama-tama merakit peralatan sesuai dengan gambar pada rancangan percobaan, lalu menimbang penyangga pada neraca. Setelah itu meletakkan kerupuk di atas penyangga. Selanjutnya, menekan kerupuk dan penyangga dengan alat penekan hingga patah. Kemudian mengamati massa kerupuk saat patah. Mengurangi massa akhir saat kerupuk patah dengan massa kerupuk dan massa penyangga lalu mencatat perubahan massa kerupuk. Setelah itu mengulangi langkah tersebut untuk kerupuk lainnya dan menghitung tegangan tiap kerupuk serta mencatat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.




BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A.    Data
Mpenyangga (M±0,1) gr = 348,8
A= p.l = 2,156 x 10-3
No.
Jenis Kerupuk
M0(M0±0,1)gr
Mt(Mt±0,1)gr
∆M(gr)
F=∆M.g (N)
σ = F/A (N/
m2)
1.
Kerupuk ikan
1,2
6,1
4,9
4,9 x 10-2
22,73
2.
Kerupuk cabai
1,2
9,1
7,9
7,9 x 10-2
36,64
3.
Kerupuk sereh
1,3
7,3
6,0
6,0 x 10-2
27,83
4.
Kerupuk ikan + udang
1,4
4,2
2,8
2,8 x 10-2
12,99
5.
Kerupuk udang
1,7
3,0
1,3
1,3 x 10-2
6,03

B.     Analisis
Pada percobaan uji kerenyahan yang telah dilakukan massa penyangga (Mpenyangga) sebesar 348,8 gr dengan luas penampang (A) sebesar 2,156x10-3. Pada percobaan pertama jenis kerupuk yang digunakan adalah kerupuk ikan diperoleh massa awal (M0) sebesar 1,2 gr dan massa akhir (Mt) sebesar 6,1 gr sehingga diperoleh ∆M sebesar 4,9 gr. Pada jenis kerupuk ikan ini diperoleh gaya (F) sebesar 4,9x10-2 N dan σ sebesar 22,73 N/m2.
Pada uji kerenyahan jenis kerupuk yang kedua adalah kerupuk cabai diperoleh massa awal (M0) sebesar 1,2 gr dan massa akhir (Mt) sebesar 9,1 gr sehingga diperoleh ∆M sebesar 7,9 gr. Pada jenis kerupuk cabai ini diperoleh gaya (F) sebesar 7,9x10-2 N dan σ sebesar 36,64  N/m2.
Pada uji kerenyahan jenis kerupuk yang ketiga adalah kerupuk sereh diperoleh massa awal (M0) sebesar 1,3 gr dan massa akhir (Mt) sebesar 7,3 gr sehingga diperoleh ∆M sebesar 6,0 gr. Pada jenis kerupuk sereh ini diperoleh gaya (F) sebesar 6,0 x 10-2 N dan σ sebesar 27,83   N/m2.

Pada uji kerenyahan jenis kerupuk yang keempat adalah kerupuk ikan+udang diperoleh massa awal (M0) sebesar 1,4 gr dan massa akhir (Mt) sebesar 4,2 gr sehingga diperoleh ∆M sebesar 2,8 gr. Pada jenis kerupuk sereh ini diperoleh gaya (F) sebesar 2,8 x 10-2 N dan σ sebesar 12,99 N/m2.
Pada uji kerenyahan jenis kerupuk yang kelima adalah kerupuk udang diperoleh massa awal (M0) sebesar 1,7 gr dan massa akhir (Mt) sebesar 3,0 gr sehingga diperoleh ∆M sebesar 1,3 gr. Pada jenis kerupuk sereh ini diperoleh gaya (F) sebesar 1,3 x 10-2 N dan σ sebesar 6,03 N/m2. Jadi, jenis kerupuk berpengaruh terhadap kerenyahan kerupuk.


 
BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan uji kerenyahan yang telah dilakukan, Pada kerupuk ikan diperoleh σ sebesar 22,73 N/m2. Pada kerupuk cabai diperoleh σ sebesar 36,64 N/m2. Pada kerupuk sereh diperoleh σ sebesar 27,83 N/m2. Pada kerupuk ikan+udang diperoleh σ sebesar 12,99 N/m2. Pada kerupuk udang diperoleh σ sebesar 6,03 N/m2. Pada hal ini dapat diartikan dari hasil analisis, semakin kecil hasil σ pada kerupuk, makan kerupuk tersebut semakin renyah, dan sebaliknya. Pada hasil percobaan yang dilakukan, kerupuk paling renyah ialah kerupuk udang, karena nilai σ paling kecil. Kerenyahan krupuk disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya sifat kerupuk itu sendiri, bahan baku kerupuk dan pengolahan kerupuk (penggorengan, pengukusan, pengeringan, dll).

 
BAB VI
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa jenis kerupuk yang berbeda maka kerenyahannya juga berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Apriadi, Ardhan. 2009. Bab Elastisitas. (Online), (http://ardhanapriadi.blog.com/ 2009/12/06/bab-elastisitas/, diakses 3 Mei 2014).
Giancoli. 1995. Physics Principles with Application. New Jersey: Prentice Hall.
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Nastiti, Hanifah. 2011. Tegangan Stress dan Tegangan Strein. (Online), (http://hanifahnastiti.blogspot.com/2011/01/tegangan-stress-dan-reganganstrain.html? =1, diakses 3 Mei 2014).
Sudiyanto, Dimas. 2013. Pupa Ulat Sutera. (Online), (http://dimassudiyanto.blogspot.com/ 2013/01/pupa-ulat-sutra.html, diakses 16 Mei  2014).
TIM. 2014. Modul Praktikum Fluida. Surabaya: Prodi Pendidikan Sains FMIPA Unesa.




LAMPIRAN


Gambar 3. Mengukur luas permukaan balok


Gambar 4. Kerupuk ikan sebelum dipatahkan


Gambar 5. Kerupuk ikan setelah dipatahkan

Gambar 6. Kerupuk cabai sebelum dipatahkan



Gambar 7. Kerupuk cabai setelah dipatahkan



Gambar 8. Kerupuk serai sebelum dipatahkan

Gambar 9. Kerupuk serai setelah dipatahkan


Gambar 10. Kerupuk ikan+udang sebelum dipatahkan

Gambar 11. Kerupuk ikan+udang setelah dipatahkan

Gambar 12. Kerupuk udang sebelum dipatahkan


Gambar 12. Kerupuk udang setelah dipatahkan








LEMBAR KERJA MAHASISWA
UJI KERENYAHAN KERUPUK

A.    Tujuan Percobaan :
Mengetahui pengaruh jenis kerupuk terhadap kerenyahan kerupuk.

B.     Kajian Teori :
Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk dapat mengembalikan keadaan awalnya, segera setelah gaya yang diberikan pada benda dihilangkan. Benda elastis adalah benda yang dapat kembali ke bentuk awal, setelah gaya yang diberikan pada benda dihilangkan. Contoh benda elastis: karet, pegas, baja, kayu. Sebuah karet bisa putus jika gaya tarik yang diberikan sangat besar, melawati batas elastisitasnya. Jadi benda elastis tersebut memiliki batas elastisitas.
Regangan (strain) adalah perbandingan antara pertambahan panjang L terhadap panjang mula-mula (Lo). Regangan dinotasikan dengan ‘e’ dan tidak mempunyai satuan. Dirumuskan sebagai berikut : e = ΔL/Lo
Kerupuk merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari Indonesia, terbuat dari tepung tapioka (pati), dicampur dengan bahan tambahan pangan dan dilakukan penggorengan dengan minyak sebelum disajikan. Pati berperan dalam proses gelatinisasi dan berpengaruh terhadap volume pengembangan yang merupakan salah satu mutu kerupuk yaitu semakin besar volume pengembangan maka mutu kerupuk tersebut makin baik. Kerupuk mempunyai elastisitas yang mempunyai batas elastisitas itu sendiri.

C.    Alat dan Bahan :
Alat:
1.      Neraca digital           1 buah
2.      Balok kayu    1 buah
3.      Mistar                        1 buah
Bahan:
1.      Kerupuk ikan
2.      Kerupuk cabai
3.      Kerupuk serai
4.      Kerupuk ikan + udang
5.      Kerupuk udang

D.    Langkah Kerja:
1.      Merakit peralatan sesuai dengan rancangan percobaan.
2.      Menimbang penyangga pada neraca.
3.      Meletakkan kerupuk di atas penyangga.
4.      Menekan kerupuk dan penyangga dengan alat penekan hingga patah.
5.      Mengamati massa kerupuk saat patah.
6.      Mengurangi massa akhir saat kerupuk patah dengan massa kerupuk dan massa penyangga dan mencatat perubahan massa kerupuk.
7.      Mengulangi langkah tersebut untuk kerupuk lainnya dan menghitung tegangan tiap kerupuk.
8.      Mencatat hasilnya ke dalam tabel hasil pengamatan.

E.     Tabel Hasil Pengamatan :
No.
Jenis Kerupuk
M0 (M0±0,1) gr
Mt (Mt±0,1) gr
∆M (gr)
F=∆M.g (N)
σ = F/A (N/

m2 )
1.
Kerupuk ikan





2.
Kerupuk cabai





3.
Kerupuk sereh





4.
Kerupuk ikan + udang





5.
Kerupuk udang






Tidak ada komentar:

Posting Komentar